Kata Pengantar (Tarombo)

Kata Pengantar – (Dikutip dari BUKU TAROMBO/SILSILAH SIMANIHURUK)

Suku bangsa Batak menarik hubungan kekeluargaan dari keturunan bapak, yang dalam ilmu pengetahuan disebut patrilineal. Setiap orang Batak ingin mengetahui silsilah nenek moyangnya, yang dalam bahasa Batak disebut Tarombo. Dengan mengetahui tarombo orang Batak yang bersangkutan mengetahui kedudukannya dalam masyarakat lingkungannya.
Pengurus PUNGUAN SIMANIHURUK DOHOT BORU DAN BERE SE JABODETABEK memandang perlu adanya tarombo Simanihuruk. Untuk itu ditugaskan kepada saya untuk mengumpulkan bahan-bahan dan menyusun Tarombo Simanihuruk.

Pengumpulan bahan-bahan dimulai pada awal tahun 1997. Dalam pengumpulan bahan-bahan dijumpai sangat banyak kesulitan, karena sangat sedikitnya bahan-bahan yang tertulis, orang-orang tua tinggal sedikit yang masih hidup dan keturunan Simanihuruk sudah tersebar di seluruh penjuru Sumateta Utara dan bahkan di seluruh penjuru Indonesia. Kesulitan lain adalah karena keturunan Simanihuruk yang sudah lama bermukin di Tanah Karo menggunakan marga Ginting Manik dan yang sudah lama bermukim di Simalungun menggunakan marga Saragih dan sebagian tidak lagi mengetahui asal usulnya di Bonapasogit.

Buku ini adalah konsep awal yang tidak sempurna, karena masih banyak keturunan Simanihuruk yang belum tercatat karena ketiadaan bahan umpamanya keturunan-keturunan Ompu Bangkurung dari Harapohan, keturunan Ompu Sohalaosan dari Pansur, keturunan Ompu Bolean dari Sigaol, keturunan Ompu Sugi dan Ompu Tenggal dari Sidabagas dan lain-lain . Selain itu anak Bagas Raja yang bermukim di Tongging, Tanah Karo, Dairi dan Simalungun belum tercatat sama sekali.

Salah satu hal yang memerlukan penelitian lebih lanjut adalah generasi yang tidak seimbang, umpamanya; Ompu Raja Ni Huta, Ompu Tembe, Rango Raja, Maranti Raja dan Bagas Raja adalah cucu Simanihuruk. Keturunan Datu Tahan Di Aji baru sampai generasi XII, keturunan Ompu Tembe baru sampai generasi XIII, keturunan Bagas Raja baru sampai generasi XV tetapi keturunan Maranti Raja sudah sampai generasi XVIII. Kalau berbeda dua atau tiga generasi masih dapat diterima oleh akal. Tetapi kalau sudah berbeda sampai lima generasi, maka hal ini perlu didiskusikan lebih lanjut.

Buku yang merupakan konsep awal ini disusun berdasarkan bahan-bahan yang dapat dikumpulkan dari berbagai sumber dan bahan-bahan kepustakaan, antara lain dari buku Pustaha Batak karangan W.M Hutagalung terbitan tahun 1991 dan dari Buku Leluhur Marga-Marga Batak karangan Drs. Richard Sinaga cetakan kedua tahun 1977.
Untuk menyusun tarombo Simanihuruk secara lengkap memerlukan waktu yang lama dan memerlukan partisipasi aktif dari semua keturunan Simanihuruk. Mudah-mudahan Buku  konsep awal ini dapat digunakan sebagai bahan penyempurnaan.

Binanga Borta, Juni 1998

AE Manihuruk