Kunjungan Kasih

Wakil Ketua, Ap. Intan bersama Penasehat, Am. Tongam menyerahkan kewajiban Punguan kepada Keluarga Ap. Grace.

Wakil Ketua, Ap. Intan bersama Penasehat, Am. Tongam menyerahkan kewajiban Punguan kepada Keluarga Ap. Grace.

Minggu, 13 November 2022; di tengah padatnya kegiatan Keluarga Manihuruk khususnya yang di Jabodetabek, antara lain sejak tanggal 4, 5, 6 dan 8 November 2022 baik suka maupun duka, sehingga kunjungan kasih kepada Anggota Punguan yang mengalami kedukaan beberapa minggu lalu, antara lain kepada Keluarga Ap. Grace Manihuruk/br. Sihaloho – Bogor yang beberapa minggu lalu Mertua/Orangtua tercinta telah berpulang ke rumah Bapa di Surga dan Agus Fernandez Manihuruk/br. Sinaga (Bp. Vander) – Tangerang dimana Vander Manihuruk telah selesai menerima tindakan medis. Semoga Vander semakin sehat dalam lindungan Tuhan Yesus. Amin

Op. Elva menyerahkan pengganti buah, kepada Agus Fernandez (Bp. Vander)

Kunjungan ini difasilitasi oleh Arisan Pomparan Op. Landit dimana pada kesempatan tersebut diadakan arisan dengan tujuan untuk menghemat waktu.

Patua Hata Marhusip Virtual

Sesuai kalender Adat Keluarga Manihuruk, hari ini Sabtu, 29 Oktober 2022 telah dilaksanakan acara adat Patua Hata dan Marhusip secara virtual karena calon Pengantin tidak hadir. Maka sebagai media perantara untuk menghadirkan dan konfirmasi rencana kedua calon Pengantin dilakukan dengan cara video call. Hal ini wajib dilakukan mengingat  rencana mereka akan membentuk rumah tangga baru sudah sampai ke ranah Natuatua ni Keluarga Manihuruk dan Manurung.Kegiatan inilah yang disebut PATUA HATA.

Buat Calon Pengantin

Setelah Keluarga Manihuruk setuju dan menerima misi pertama mereka (Keluarga Manurung), Patua Hata, maka pada kesempatan yang sama mereka bermohon kiranya misi kedua mereka adalah Marhusip-husip nagogo. Dalam acara ini sudah dibicarakan materi marhata SINAMOT dan pesta unjuk setelah pemberkatan. Teknis adat seperti ini berbeda dengan di luar Jabodetabek. Seperti baru – baru ini yang terjadi di P. Siantar dimana pihak par Boru bermukim di P. Siantar sementara par Anak tinggal di Jabodetabek, istilah adat Patua Hata Marhusip tidak ada, yang biasa digunakan adalah bahasa adat; MARPUDUN SAUT, menjelang hari pemberkatan dan pesta unjuk, atau paling lama satu minggu menjelang pemberkatan nikah Kudus. Namun demikian teknis pelaksanaan adat boleh beda akan tetapi kualitas adat yang disampaikan dan diterima sama saja.

Khusus kegiatan hari ini yang agak unik adalah kedua calon mempelai tidak hadir, karena alasan pekerjaan di luar pulau Jawa, maka Keluarga Manihuruk dengan marga Manurung sebagai par Anak, sudah saling percaya bahwa kedua calon Pengantin tidak akan mengkhianati apa yang sudah diputuskan kedua belah pihak atas rencana mereka untuk membentuk rumah tangga. Semoga kesepakatan SUHUT dapat dilaksanakan pada waktunya lancar dan sukses. Amin

Setelah sepakat bahwa Rumang ni Ulaon Adat adalah Taruhon Jual, par Anak marga Manurung yang menjadi bolahan Amak/Tuan Rumah, par Boru yang datang ke rumah par Anak.

Dengan demikian walaupun par Boru yang mendatangi rumah keluarga par Anak marga Manurung, tetap ada pembagian tugas yang disebut Mar Ria Raja agar apa yang dipersiapkan par Anak bisa kerja sama demi kelancaran pesta dan di pihak par Anak pembagian tugas disebut dalam bahasa adat, Martonggo Raja.

Op. Elva raphon Inanta pasahat Dekke Siuk

Kegiatan mar Ria Raja tersebut dimanfaatkan juga pendistribusian Undangan dan pasahat Dekke Sibuk kepada Suhut, tandanya Keluarga Manihuruk sisada anak jala sisada Boru.

Suhut pasahathon Undangan secara simbolis

Sebelum pulang, par Boru foto bersama

Suhut par Boru : Kel. Elimar Manihuruk/br. Sihotang – Jambi dan K. Manihuruk, SKM/ br. Silalahi (Op. Shevania/Am. Okky).

Suhut par Anak;

Ramal Manurung/Berliana Lisken br. Sirait – Jln. Raya Cilebut Timur Kabupaten Bogor.

Patua Hata Marhusip

Jum’at, 14 Oktober 2022 sesuai kalender Adat Keluarga Manihuruk, telah dilaksanakan kegiatan Adat antara Keluarga Manihuruk dengan marga Gultom par Anak di Lapo Danau Toba Cikarang Bekasi. Acara dimulai pukul 11.00 WIB dan selesai pukul 13.00 WIB.

 

Setelah acara Patua Hata Marhusip rencana pernikahan Nesya Tabita br. S. Manihuruk dengan Inmanuel Gultom kegiatan adat berikutnya adalah Tonggo Raja dan Ria Raja di Keluarga Gultom di tempat yang sama. Peristiwa seperti ini dapat dimaklumi mengingat waktu dan lokasi tempat tinggal Keluarga relatif cukup berjauhan dengan target;  esensial, efektif dan efisien.

Beda dengan kegiatan serupa di Bonapasogit, bahasa adatnya pun beda, jika di Bonapasogit dan Sumatera Utara kegiatan serupa disebut dengan MARPUDUN SAUT setelah ibadah ikat janji MARTUMPOL (bagi Gereja HKBP) dan pelaksanaannya tidak terlalu jauh dari waktu Pemberkatan dan Pesta Unjuk bahkan paling lama 1 mingguan. Hal ini  bisa saja terjadi  karena pada umumnya Peserta Pesta di Bonapasogit relatif tidak jauh dari lokasi pesta. (Sahuta)

Semoga hasil kesepakatan bersama pada kegiatan tersebut lancar dan sukses pada waktu yang telah ditetapkan kedua belah pihak Suhut par Boru dan par Anak.. Amin

Pasahat ingot Ingot sebagai tanda penutup acara.