PARTANGIANGAN UCAPAN SYUKUR

Minggu, 09 Juni 2024

“Dengan Semangat Kebersamaan Ucapan Syukur Pada Tuhan, Pomparan Ompu Datu Tahan Diaji Simanihuruk Boru, Bere, Ibebere Mewujudkan Saling Mengasihi, Menolong dan Mendoakan.”

Teks di atas menjadi Sub Tema pada acara Partangiangan Pomparan Ompu Datu Tahan Diaji Simanihuruk Boru Bere Ibebere se Jabodetabek di Aula Nyi Ageng Serang Buperta Cibubur Jakarta Timur dimana Sub Tema tersebut dikutip dari Filipi 4: 6 b. sekaligus menjadi TEMA.

Acara diisi dengan manortor bersama sesuai budaya Batak Toba dan secara tidak langsung menjadi momentum pengenalan jati diri sebagai orang Batak kepada generasi muda khususnya Pomparan/Keturunan dari Ompu Raja Simanihuruk.

Anak dari Raja Simanihuruk ada 3 yaitu;

  1. Datu Tahan Diaji
  2. Guru Marsingal
  3. Guru Nianggapan

Pdt. Bonar Napitupulu, S. Th

Sebelum acara Partangiangan terlebih dahulu diawali dengan ibadah Minggu yang dipimpin oleh Amang Pdt. Bonar Napitupulu, S.Th.

Makna sub tema di atas sangatlah bagus dan konsekuensinya menjadi modal dalam kelancaran program Punguan. Antara lain bahwa program nasional Punguan adalah penyelenggaraan Pesta Tugu Raja Simanihuruk pada Ulang Tahun ke-12 pada medio Juli 2025 di Harapohan Samosir.

Dengan mengandalkan kebersamaan yang didasari oleh saling Mengasihi, Menolong, Mendoakan maka semangat kebersamaan akan timbul dengan sendirinya sehingga akan terwujud seperti hata ni namatua; TAMPAKNA DO TAJOMNA, RIMNI TAHI DO GOGONA. 

Semoga melalui penyelenggaraan Partangiangan Pomparan Ompu Datu Tahan Diaji semangat kebersamaan Kita semakin solid menyongsong Pesta Tugu Raja Simanihuruk Tahun 2025. Semoga!

Tambahan dokumentasi dapat dilihat dengan meng-Klik link ini

PESTA UNJUK MANIHURUK JABODETABEK DAN MEDAN

Sabtu, 25 Mei 2024;

Pesta Unjuk sesuai jadwal Kalender Adat Keluarga Manihuruk khususnya yang bermukim di Jabodetabek, Keluarga Manihuruk dengan marga Manik selaku par Boru.

Setelah pemberkatan nikah Kudus di Gereja Katolik St. Arnoldus Kota Bekasi dan dilanjutkan pelaksanaan adat Batak Toba di Gedung Graha Cibening yang dimulai pukul 11.00 WIB.

Acara berjalan lancar walaupun durasi penyampaian adat meleset dari perkiraan sehingga pola 3 E pelaksanaan adat belum maksimal.

Selamat Menempuh Hidup Baru: Lasron Simanihuruk dengan Vivi Boru Manik. Semoga tetap bahagia dan harmonis sampai Saurmatua. Amin.

Suhut par Anak: Drs. J. Manihuruk/br. Situngkir (Opnisi Keynara/Ap. Lasron) – Bekasi.

Suhut par Boru: L. Manik/br. Simamora – Pakkat Tapteng.

PESTA UNJUK DI MEDAN

Pada hari yang sama Sabtu, 25 Mei 2024 Anggota Punguan Pomparan Raja Simanihuruk Boru Bere (Punguan PRSBB) Jabodetabek; Kel. Ir. Jonly Manihuruk/br. Simanjuntak (Am. Dion) – Pondok Bambu Jakarta Timur.

Dokumentasi singkat dapat di-KLIK di sini

Pemberkatan Nikah: Don Dearando Manihuruk dengan  Yohana Friska Br. Aritonang di HKBP Nomensen Pulo Brayan Bengkel Medan.
Setelah pemberkatan tersebut pesta unjuk adat pernikahan dilanjutkan ke  Gedung Pertemuan Griya Bann Jl. H Jl. Amir Hamzah Helvetia Timur Medan.

Suhut par Anak: Ir. Jonly Manihuruk/br. Simanjuntak (Am. Dion) – Pd. Bambu Jakarta Timur.

Suhut par Boru; E. Aritonang/ S. Br. Sinaga. Jl. Perwira I No. 26, Pulo Brayan Bengkel, Medan Timur.

ANAK SORANG MAGODANG

Sabtu, 18 Mei 2024.

Anak sorang magodang merupakan bahasa Adat Batak Toba yang digunakan ketika seorang laki-laki beda suku dengan pasangan suku Batak Toba. Adat pernikahan mereka dilaksanakan secara Adat Batak Toba di Gedung Sasana Pakarti Jln. Duren Tiga Jakarta Selatan setelah  menerima pemberkatan di Gereja Katolik Keluarga Kudus Jln. Pertanian 3 Pasar Minggu Jakarta Selatan.

Adat pernikahan Batak Toba boleh dilaksanakan jika pengantin laki-laki dan perempuan memiliki marga. Itulah yang dialami oleh Suryo Bagus Trihatmodjo dengan pasangannya Yuni Anggita Boru Nainggolan Hutabalian. Sebelum pemberkatan harus dilakukan mengangkat marga kepada Suryo Bagus Trihatmodjo menjadi marga Manihuruk. Dan kenapa marga Manihuruk, bukan marga lain(?)

Aturan adat yang tidak tertulis oleh Para Leluhur bahwa jika ada anak sorang magodang, lahir langsung besar karena pernikahan Adat Batak mengharuskan kedua mempelai memiliki marga. Marga yang diberikan kepada Suryo adalah marga Manihuruk dengan alasan bahwa suami Namboru si Yuni Anggita adalah marga Manihuruk . Itulah aturan Para Leluhur yang tidak tertulis namun tersirat dengan menggunakan logika saja bahwa ada boru Nainggolan menikah dengan marga Manihuruk. Hal yang sama terjadi kepada si Suryo Manihuruk menikah juga dengan boru Nainggolan layaknya seperti Namborunya si Yuni Anggita (Namboru adalah saudara laki-laki Bapa dari Yuni Anggita). Dengan diangkat si Suryo menjadi marga Manihuruk maka yang menjadi Orangtua Adat adalah M. Manihuruk beserta Ibu adat Boru Nainggolan (Op. Mikael) tinggal di Jakarta dan Orangtua biologis si Suryo adalah Bp. Djoko Soepomo dan Ibu Sri Sulastri tinggal di Solo Jawa Tengah.

Suhut par Anak: Ap. Juli Manihuruk/br. Nainggolan (Op. Michael ) – Wilayah Jakarta Timur 2

Suhut par Boru: Ir. Krisman Nainggolan/br. Damanik